Featured Post

Molly Kelly Tokoh Aborigin yang Mempertahankan Jatidirinya

Molly Kelly, lahir di Jigalong tahun 1917. Ia adalah tokoh dari suku Aborigin, yang kisah sejatinya dijadikan film Rabbit Proof Fence. Tahun 2004 ia meninggal dengan membawa kesedihannya; tidak pernah bertemu lagi dengan putrinya yang telah diambil paksa darinya dan terpisah 60 tahun yang lalu. 




Molly meninggal dalam tidurnya di Jigalong, Australia Barat, di usia 87 tahun. Saat itu ia pamit untuk pergi tidur siang, dan tak pernah terbangun lagi.
Molly adalah saksi bagaimana penduduk ‘setengah kasta’ diperlakukan dengan tidak adil.


Tahun 1931, Molly (14 tahun) bersama adik bungsu dan sepupunya, diambil paksa dari ibu mereka di kampung halaman di Pilbara Timur, oleh pemerintah. Saat itu pemerintah Australia sedang gencar memberlakukan hukum untuk anak-anak ‘setengah kasta’ diambil hak asuhnya dan dijadikan budak bagi kulit putih. Molly dan dua adiknya itu diangkut ke Moore River, Perth Utara. Tangisan ibu, nenek, dan keluarga, terus-terusan terekam dalam kepala mereka yang akhirnya membuat ketiga gadis kecil itu melarikan diri dari asrama yang memberlakukan peraturan yang aneh.

Jarak ribuan kilometer mereka tempuh dengan waktu sekitar sembilan minggu, hanya dengan berjalan kaki, dengan mengikuti pagar pembatas antar negara. Tanpa makanan dan hanya dengan baju yang melekat di badan, mereka berjuang menaklukan padang pasir yang tandus. 




Molly dan adik-adiknya berhasil kabur dari kejaran pemerintah. Ia hampir kepayahan karena kelaparan dan udara yang begitu dingin atau begitu panas. Ia berhasil kembali ke dalam pelukan ibunya. 

Molly menikah dengan Toby Kelly, seorang peternak Aborigin. Sayangnya, pada tahun 1940, kembali Molly dibawa pemerintah ke pemukiman Moore River. Molly dibawa beserta dengan anak-anaknya; Annabelle dan Doris. Beberapa tahun kemudian Molly nekat melarikan diri lagi dari Moore River. Ia berhasil membawa Annabelle tetapi sayangnya dia tak bisa membawa Doris.

Tahun 1943, pemerintah Australia merebut paksa Annabelle, dan Molly tak bisa melihatnya lagi. Di sisa hidupnya Molly masih sempat  bertemu dengan Doris yang kemudian mengabadikan kisahnya.



websembilan

Kisah nyata penderitaan Molly akhirnya ditulis oleh anaknya Doris Pilkington Garimara dalam sebuah novel. Novel tersebut kemudian dijadikan layar lebar dibawah besutan sutradara handal Phillip Noyce pada tahun 2002. Doris sendiri telah meninggal pada tahun 2014 karena kanker ovarium.*

Komentar