Perancis akan punya presiden baru. Peluang besar disebut-sebut akan diraih oleh Emmanuel Macron, si calon independen yang menjadi sorotan karena kharismanya.
Dia dipastikan akan berhadapan dengan rivalnya, Marine Le Pen. Lalu siapakah pria tampan yang mampu mencuri perhatian masyarakat Perancis ini?
Lahir di Amiens, 21 Desember 1977, pria berusia 39 tahun ini maju dengan tanpa dukungan partai politik. Banyak yang menyebut ia nekad dan diragukan kemampuannya. Ketika ia berhasil menang dalam putaran pertama Pemilu Perancis, tentu itu adalah sebuah kejutan. Sontak perhatian masyarakat Perancis tercurah kepadanya.
Mantan Perdana Menteri Manuel Valls bahkan sempat memandang remeh dan menyebutnya sebagai populisme kelas ringan. "Dia pernah menjadi bahan olok-olok di lingkaran politik Perancis--namun kini tampaknya Emmanuel Macron akan menjadi pemenang," dilansir dari CNN, Selasa (25/4).
Macron belajar di Lycee Henry IV sebelum masuk ke Ecole National d'Administration, jalan yang panjang bagi seorang elite politik Perancis. Ia ditunjuk menempati posisi staf senior di pemerintahan Hollande pada 2012 lalu setelah sukses di sektor perbankan.Macron kemudian menjabat sebagai Minister of the Economy, Finances and Industry of France (2014–2016) atau Menteri Ekonomi.
Tahun 2017 ini, Emmanuel Macron menjadi calon presiden Prancis pada Pemilu Prancis 2017. Dalam pemilihan tersebut ia bertarung dengan François Fillon dari kelompok konservatif, pemimpin kelompok berhaluan kanan-jauh Marine Le Pen, dan pemimpin kelompok kiri-jauh Jean-Luc Mélenchon. Pada pemilu putaran pertama yang digelar 23 April 2017, Emmanuel Macron berhasil menjadi pemenang, disusul oleh Marine Le Pen. Macron meraih 23,8 persen suara, disusul Le Pen, yang mengantongi 21,5 persen total suara. Dengan begitu, mereka berdua berhak maju ke pemilu putaran kedua yang akan digelar tanggal 7 Mei 2017.
Yang membuat Macron banyak dicintai pendukungnya karena ia pernah berkata, "Tidak ada agama yang menjadi masalah di Perancis saat ini. Negara harus netral karena merupakan jantung dari sekularisme, karena memang moralitas tidak perlu didasarkan pada ajaran agama. Kita berkewajiban untuk membiarkan semua orang menjalankan agama mereka dengan adil."*
Komentar